Samson Silitonga

Etika Untuk Akademisi:Berawal Dari Problem Keilmuan[1] Samson J. Silitonga            

Goldman menguraikan kisah ini dalam bukunya, dan saya membayangkan Profesor Alan D. Sokal, suatu pagi, di pertengahan Mei 1996. Di ruang kerjanya yang tidak luas, wajah dan gerak tubuh guru besar fisika Universitas New York itu sepenuhnya menunjukkan ekspresi kemenangan. Semacam kegairahan yang dilatari keyakinan bahwa sebentar lagi para kolega akademisnya di setiap pojok negeri akan memberi ucapan selamat, untuk suatu argumen yang berhasil mematahkan pandangan ilmuan-ilmuan sosial. Kemarin, jurnal Social Text secara khusus telah mempublikasi tulisannya, yang secara ekstensif menjelaskan bahwa  penggabungan teori mekanika quantum dan relativitas umum yang sesuai akan menghasilkan ilmu post modern dan ‘membebaskan’.            

Tetapi sekonyong-konyong kegairahan Sokal tidak berlanjut. Tanpa nyana, setiap baris argumen dalam tulisan itu justru tampak sebagai penegasan-penegasan yang janggal (kalau tidak ingin disebut tolol) dan menggelikan. Semisal menegaskan bahwa pi (л) tidak bersifat konstan dan universal, namun relatif terhadap posisi pengamat dan karena itu tunduk pada keniscayaan historis. Bukankah dengan demikian Sokal justru sedang menampilkan teori relativitas yang melampaui batas kegilaan?             

Disebut-sebut sebagai momen hempasan paling dramatis dalam perang ilmu-ilmu abad XX, tulisan berjudul “Menerabas Batas-batas: Menuju Hermeneutika Transformatif Gravitasi Kuantum” itu tadinya disiapkan menjadi pukulan stright pamungkas a la Mohammed Ali ke rahang para ilmuan sosial Barat. Namun maksud itu cuma menerjang angin.                

Serangan terhadap teori-teori sosial mengenai hakikat ilmu yang dilancarkan Sokal bersama kelompoknya pun gagal, dan untuk seterusnya mereka tak lagi berusaha menegaskan bahwa epistemologi dan kritik ilmu-ilmu merupakan omong kosong, apalagi menggambarkan kebanyakan pengritik ilmu sebagai pembual.             

Profesor Paul Gross (Departemen Biologi) dan Profesor Norman Levitt (Matematika) secara heroik pernah menyatakan bahwa para ilmuan sosial tidak lebih sekadar ‘kalangan kiri akademis’ yang secara intrinsik bersikap anti-ilmu. Mereka tidak menyukai manfaat ilmu dan teknologi yang diolah oleh kekuatan-kekuatan politik ekonomi semisal militer, birokrasi, teknokrat dan para industriawan maju. Apalagi  ketika salah satu dampak teknologi, yakni kerusakan lingkungan, menjadi isu yang tidak terelakkan. Dan seolah obyektif, Gross dan Levitt menyebut perang itu berwatak abad Pertengahan, suatu penolakan terang-terangan terhadap warisan terkuat Aufklaerung dengan menampik kemajuan.             

Permusuhan itu sendiri telah meluas hingga ke tingkat struktural lembaga-lembaga keilmuan, bahkan merasuki area mentalitas yang sering  dianggap sebagai ciri khas para ilmuan. Yang juga mengejutkan, muncul pula permusuhan terbuka terhadap kandungan aktual pengetahuan ilmiah dan asumsi yang telah dianggap universal oleh kaum terpelajar: bahwa pengetahuan dapat dipercaya secara rasional karena berlandaskan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.             

“Ilmu telah menjadi agama baru, sehingga mempertanyakan ilmu merupakan ancaman nyata terhadap peradaban,” tegas Profesor Andrew Roos, Direktur Program American Studies di New York University. Lebih lanjut kata Ross, “…Ilmu-ilmu telah sepenuhnya melakukan kompromi, mengalami industrialisasi dan termodifikasikan; karena itu jika terdapat keyakinan militan terhadap klaim-klaim kebenarannya, tentu tidak terlalu sukar untuk dimengerti”.             

New Yok Times, International Herald Tribune, La Monde dan surat-surat kabar internasional lainnya meliput skandal memalukan itu, apalagi karena telah memakan banyak korban. Yang dimaksud korban di sini ialah hilangnya karir dosen dan para guru besar, juga ~ini yang lebih mengerikan~ tersisihnya berbagai ide atau gagasan brilian.[2]  

Bagaimana reaksi Descartes dan Comte andai menyaksikan semua itu?             

Para akademisi yang sungguh mendalami hakikat keilmuan mestinya paham bahwa perang ilmu-ilmu sebenarnya sudah berlangsung cukup lama dan pernah mencapai puncaknya di sekitar dekade 1960an. Awalnya ilmu hanya dilihat dari kaca mata “otoritas ilmu”, sebagai suatu aktivitas murni, otonom dan tak dapat diganggu oleh industrialisasi dan berbagai sistem sosial. Pendeknya, ilmu pasti melampaui masyarakat.              Pandangan ini diimbuhi pula oleh suatu ‘gengsi’ yang menyebut bahwa para ilmuan harus berjuang sendiri melawan tantangan demi kebenaran.[3] Kemurnian penelitian ilmiah ditekankan di setiap universitas yang mencoba mengandalkan riset sebagai keunggulannya.             

Istilah ilmuan atau scientist muncul pada 1830an, diperkenalkan William Whewell (1794-1866), seorang ahli fisika sekaligus sejarah ilmu. Sebelumnya para ilmuan dijuluki ‘filsuf alam’. Whewell menilai bahwa para ilmuan merupakan sosok yang sengaja melibatkan dirinya ke dalam peran sosial unik, membutuhkan proteksi dan memiliki eksistensi yang otonom tinimbang anggota sosial lainnya. Berdasar penilaian itu Whewell menjadikan ilmuan ~khususnya ilmuan yang sudah punya nama besar~ sebagai obyek penyelidikan para sejarawan dan filsuf ilmu. [Dengan begitu, pada masa Whewell, penekanan sejarah ilmu tercurah pada berbagai penemuan ilmuan-ilmuan besar dan pembenaran atas penemuan-penemuan itu berdasarkan obyektifitas yang unik, yakni sikap yang tidak berpihak pada prinsip universalitas ilmu.]             

Tetapi lambat laun muncullah pertanyaan substansial: apakah para ilmuan besar tak pernah berbuat kesalahan sehubungan dengan ‘otoritas ilmiahnya’, yang dengan demikian berpengaruh besar terhadap munculnya kesalahan ilmu? Atas pertanyaan ini beberapa ilmuan mulai tak sepenuhnya yakin terhadap kemurnian ilmu atau kemutlakan ilmu. Lantas beberapa di antara mereka mulai menaruh perhatian pada masa depan ilmu. Ernst Mach (1838-1916), seorang ahli fisika sekaligus filsuf ilmu, secara gamblang mengkritik keterlibatan para ilmuan fisika dalam eksperimen militer dan industri lainnya dalam rangka perang.             

Adalah Max Planck (1858-1947), fisikawan Jerman yang tersohor di antara jajaran ilmuan, yang langsung merespon negatif kritik tersebut dengan menegaskan idealisme ilmuan yang lebih otonom. Perdebatan pun meluas dan melahirkan isu-isu epistemologi, bahkan politis. Salah satunya adalah perdebatan di seputar realisme versus instrumentalisme.[4] Untuk sesaat Planck memenangkan perdebatan itu. Namun kekalahan Mach secara luas dinilai semakin memperbesar kemungkinan berlakunya visi Platonis para ilmuan eksperimental yang semata-mata diarahkan kepada komitmen dasar terhadap kebenaran.           

Perang Dunia I tak dapat dielakkan dan sejak itu pula keyakinan mitologis atas kemurnian ilmu tidak dapat dipertahankan lagi. Argumen Planck pun runtuh dengan sendirinya karena campur tangan pemerintah terhadap manajemen ilmu (terutama di Inggris dan Jerman) makin kasat mata dan tidak terbantahkan. Monopoli universitas sebagai lembaga riset juga menjadi runtuh ketika banyak lembaga baru didirikan dengan dana pemerintah dan swasta.             

 Hubungan antara ilmu dan ideologi makin eksplisit ketika pada 1931 kota London memfasilitasi sebuah konferensi internasional tentang sejarah ilmu. Delegasi terpenting dan yang lebih mendapat perhatian di antara peserta adalah Sovyet Uni. Tetapi makalah yang paling mendapat antusiasme dan memancing reaksi seluruh peserta datang dari Boris Hessen yang berjudul “Akar-akar Sosial dan Ekonomi Dalam Principia Newton”. Judul dan isi makalah tersebut sangat menghentak.             

Hessen menyatakan bahwa karya besar Newton bukanlah produk kejeniusan ilmiah atau hasil logika internal ilmu, melainkan konsekuensi berbagai kekuatan sosial dan ekonomi Inggris abad XVII. Para sejarawan ilmu dan ilmuan-ilmuan muda sayap-kiri Inggris butuh minimal empat tahun sebelum memahami sepenuhnya makna penting argumen Hessen tersebut. Dan terbitnya buku J.D Bernal yang berjudul The Social Function of Science pada 1939 menguatkan argumen Hessen. Gerakan ilmu radikal benar-benar telah diteguhkan. Bernal menilai ilmu sebagai sekutu alami Sosialisme, bahkan yang terpenting, berfungsi melayani masyarakat dan membebaskannya dari Kapitalisme.             

Inggris, bagaimanapun menjadi tempat lahirnya ide tentang ‘ilmu yang memiliki ideologi’, sementara Sovyet menjadi rumah ‘ilmu Sosialis’. Namun realisasi ‘ilmu sosialis’ itu dipandang sebagai kinerja ilmu yang kasar dan oportunistik. [Apakah ini semata-mata karena pengaruh rezim Stalin?] Peristiwa Lysenko 1940an-1950an yang melibatkan beberapa ahli genetika Sovyet ~berpendapat bahwa keturunan bisa direkayasa melalui manipulasi lingkungan dan pencangkokan~ telah berhasil mencemarkan gagasan-gagasan ilmu sosialis. Lantas muncullah kelompok ‘Masyarakat Inggris untuk Tanggung Jawab Sosial Ilmu’ yang menyelenggarakan konferensi demi menjawab pertanyaan, ‘Adakah Ilmu Sosialis?’            

Dalam persepsi umum, Perang Dunia II akhirnya melengkapi apa yang telah dimulai pada Perang Dunia I. Ilmu pun mendapat perhatian dalam kiprahnya di medan perang, sekaligus bagaimana ilmu bergerak menuju singgasana kekuasaan. Para ilmuan bertanggung jawab bukan hanya untuk mengembangkan bentuk-bentuk senjata kimia dan biologi mematikan, tetapi sekaligus merancang, menghasilkan serta meluncurkan bom. Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki menegaskan berakhirnya “keluguan ilmu”; keluguan ilmiah atau keluguan para ilmuan ~yang kemudian ditangisi Albert Einstein di hadapan mahasiswanya:[5]  ….Mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup kita lebih mudah, kemudian hanya memberi kebahagiaan yang sedikit pada manusia? Jawaban paling sederhana ialah karena kita belum lagi belajar bagaimana mempergunakan ilmu (secara benar dan etis).[6] Dalam peperangan, ilmu telah mendorong kita untuk saling meracuni dan saling menjagal. Dalam perdamaian, ilmu membuat hidup kita dikejar-kejar waktu, saling membenci dan saling mendustai. Ilmu yang seharusnya membebaskan kita dari kegiatan yang melelahkan spiritual, malah menjadikan manusia sebagai budak-budak… Adalah tidak cukup untuk sekadar memahami bahwa ilmu dipastikan dapat meningkatkan berkah bagi manusia. Menurut saya, perhatian kita pada nasib manusia harus selalu menjadi minat utama dari semua masalah-masalah teknis. Perhatian terhadap manusia merupakan masalah terbesar yang justru masih belum terpecahkan… Janganlah lupakan hal ini di tengah tugasmu mendalami setumpuk rumus, diagram dan persamaan….[7]            

Hubungan antara ilmu dan hal-hal yang dapat mengkooptasi ilmu pun makin tampak di permukaan. Semua gagasan tentang otonomi ilmiah dan ‘eksistensi murni’ para ilmuan juga menguap. Masyarakat luas, yang hingga dekade 1950an masih mencoba mengarahkan sebagian besar perhatiannya pada manfaat ilmu, langsung membalik tinjauan mereka pada sisi lain ilmu yang dapat menghancurkan kemanusiaan, baik secara material, kejiwaan maupun sosial.             

Peringatan Einstein itu ternyata menjadi “tembakan salvo” yang menandai puncak perang ilmu-ilmu dimulai lagi. Ilmuan fisika-nuklir berusaha membantah keras pernyataan sang maestro dengan menegaskan bahwa bom atom tidak layak dipandang sebagai konsekuensi fisika yang tak terelakkan. Sebab secara psikologis tuduhan itu dapat membuat surut semangat ilmuan muda yang cemerlang dan memiliki keprihatinan etis terhadap bom atom. Mereka akan kehilangan minat meniti karir dalam bidang fisika.            

Upaya berikutnya adalah dengan mengeluarkan statement bahwa ilmu bersifat selalu netral. Kebaikan atau keburukan ilmu tergantung pada masyarakat sepenuhnya. Argumen netralitas ini seperti menjadi diktum paling dominan tentang ilmu hingga awal 1960an, memungkinkan ilmuan untuk tetap berkarya pada bidang fisika, kimia, biologi dan nuklir, bahkan menerima dana dari lembaga-lembaga pertahanan, sambil pura-pura radikal secara politik.              

 Namun argumen tentang netralitas ilmu dan obyektifitas ilmuan menghadapi tuntutan sosial masyarakat itu relatif mudah terbantahkan. Psikologi Gestalt telah membuktikan bahwa kita dapat mengetahui suatu fisiognomi tiap individu. Persepsi setiap manusia terjadi melalui proses spontan untuk mencapai ekuilibrium berbagai fakta yang diserap retina, otak dan perasaan.[8] Sehingga, sambil meminjam dalil Michael Polanyi, bahwa setiap manusia sebenarnya dapat mengetahui lebih banyak dari yang dapat dikatakannya.[9]             

Secara fenomenologis pengetahuan manusia dibedakan dalam dua kategori: pengetahuan eksplisit dan pengetahuan implisit (yang tak selalu terungkap). Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang terungkap melalui kata-kata, simbol-simbol, formula, rumus matematis. Sedangkan pengetahuan tidak terungkap, sesuai namanya, merupakan pengetahuan yang berada pada ambang kesadaran manusia dan telah menjadi bagian dari diri manusia.             

Dalam kenyataan, kedua pengetahuan ini saling mempengaruhi. Pengetahuan yang tidak terungkap mendorong manusia membeberkan pengetahuan eksplisit. Sebaliknya, pengetahuan eksplisit direfleksikan pengetahuan tidak terungkap. Hal ini disebabkan karena pengetahuan eksplisit pada dasarnya bersifat kritis, terbuka untuk dibuktikan dan diverifikasi. Sementara pengetahuan implisit (yang tak terungkap) selalu bersifat a-kritis. Bukankah dengan begitu pengetahuan tidak terungkap ~yang bersifat internal dan personal itu~ menentukan pengetahuan eksplisit? Dan setiap orang tidak mungkin menyingkirkan pengetahuan tidak terungkap dalam dirinya. [Gambar seorang pembuat peta dapat dicek dengan cara membandingkan gambar itu dengan area sebenarnya, yang disebut proses verifikasi. Namun dapatkah mental maps orang yang membuat peta itu diverifikasi tatkala mengerjakan gambarnya?]         

Belajar dari Kuhn            

Kendati argumen barusan telah dipahami, diterima, menyebar di kalangan sejarawan dan filsuf ilmu, namun represi politik masih saja berniat menggelar argumennya hingga merajalela di berbagai universitas, khususnya Amerika Serikat. Dosen-dosen dan guru-guru besar dipecat begitu saja tanpa kompensasi apapun apabila ‘Un-American Activities Committee’ meminta para rektor melakukannya. [Seorang legenda dalam masalah ini, senator McCarthy, dipecat dari jabatan guru besar namun kemudian menjadi penasihat utama gedung putih sejak masa Kennedy hingga Lyndon B. Jhonson].             

Kejadian-kejadian di Eropa juga tidak kalah sengit, terutama di Inggris. Misalnya peristiwa yang menimpa Profesor John Needham yang memuji Mao Tse Tung pada volume pertama opus magnusnya, Science and Civilitation in China. Pendeknya, kampanye untuk memikirkan latar belakang dan dampak sosial ilmu dianggap sebagai kejahatan, karena kata “sosial” dinilai menyiratkan arti ‘Sosialisme’ sama dengan Komunisme.             

Seluruh peristiwa ini, secara sadar akhirnya diakui, menunjukkan bahwa dikesampingkannya dimensi filsafat sosial dari pengembangan ilmu di Amerika maupun Eropa, sebenarnya bukan akibat keputusan-keputusan yang matang dari ilmuan dan pemikir melainkan konsekuensi dari Perang Dingin. Politik, akhirnya diakui, dapat mempengaruhi ilmu.             

Bagaimana kesadaran tersebut akhirnya muncul ke permukaan? Pengaruh Thomas Samuel Kuhn agaknya sangat menentukan.             

Pada 1962 Kuhn menerbitkan karyanya yang paling dikenal dan melegenda hingga hari ini, The Structure of Scientific Revolutions.[10] Sejak diterbitkan hingga 18 tahun kemudian, karya ini telah terjual lebih dari 1,5 juta copy dalam 20 bahasa dan menjadi salah satu dari 10 buku akademis paling berpengaruh sepanjang abad XX.            

Dalam Structure Kuhn melihat ilmu dari perspektif sejarawan dan sudut profesionalitas. Pertama-tama Kuhn mengeksplorasi tema-tema besar, semisal: “Apakah ilmu itu sesungguhnya? Apa pula yang disebut analisis empiris, juga analisis konkret?” Pada bagian pendahuluan Kuhn menjelaskan:  Secara berangsur-angsur, bahkan seringkali tanpa disadari, para ilmuan ~yang lantas diikuti para sejarawan ilmu~ mengajukan jenis-jenis pertanyaan baru dan berusaha menelusuri garis-garis perkembangan berbeda, justru lebih sedikit dari yang bersifat kumulatif, bagi sains yang digelutinya. Mereka pun sesungguhnya tidak mencari tujuan-tujuan yang lebih permanen dari penemuan sains yang lebih tua bagi kehidupan masa kini, melainkan berupaya memperagakan integritas historis sains pada zamannya sendiri. Misalnya mereka tidak mempertanyakan kaitan antara pandangan Galileo dengan sains kontemporer, melainkan kaitan antara pandangan Galileo dengan pandangan kelompok ilmiah-nya, guru-guru, rekan-rekan atau kadernya dalam proses pengembangan sains tersebut. Lebih dari itu, mereka bersikeras untuk memilih mempelajari pendapat-pendapat kelompok dari sudut pandang yang sama dan seirama ~yang biasanya (atau pasti?) berbeda dari sudut pandang sains modern~ yang memberi kepaduan internal yang maksimum pada sudut pandang tersebut, sambil mencari kecocokannya yang paling dekat dengan alam semesta…            

Berangkat dari uraian Kuhn di atas tampaklah bahwa para ilmuan pada hakikatnya bukan orang-orang penjelajah berwatak pemberani yang berusaha menemukan kebenaran-kebenaran baru. Mereka tidak lebih dari sekadar pemecah teka-teki yang bekerja dalam suatu world view yang sudah mapan, suatu sistem dan struktur keyakinan yang mendasari dan mendorong pemecahan teka-teki itu. Sistem dan struktur keyakinan itu disebut paradigma. Sebuah paradigma akan bertahan karena di dalamnya terdapat apa yang disebut normal science atau ilmu normal. Esensi ilmu normal ini tak lain adalah epistemologi yang berusaha mempertahankan paradigmanya. Teori merupakan wujud utama sebuah normal science             

Normal science terus menerus menjalankan prosedur yang lebih dikenalnya, melahirkan hipotesis dan menguji validitas. Tetapi ternyata, tidak semua prosedur normal science berjalan sukses hingga muncullah anomali atau pertikaian di sekitar status ontologi dan epistemologi normal science. Peristiwa anomali menghasilkan dua kemungkinan. Pertama, normal science mengelakkan prosedur ilmiah selanjutnya, atau; Kedua, muncullah paradigma baru untuk mewadahi prosedur normal science. Otomatis, teori-teori yang muncul dalam paradigma lama bergeser dan menghasilkan teori-teori baru dalam paradigma yang lain.            

Para ilmuan merupakan subyek yang mengalami prosedur ilmiah itu. Mereka bekerja dalam satu paradigma yang relatif bersifat dogmatis. Dogmatisme tersebut terkait dengan kekuasaan dan kekerasan diri para ilmuan memanfaatkan semua potensinya demi menyempurnakan suatu teori, menjelaskan data-data yang membingungkan, mempublikasikan teori dan premis-premis standar bersama rekan-rekan akademik yang merasa terikat dengan paradigma tersebut, demi memperluas batas-batas ilmu normal di dalamnya. Bahkan tidak jarang prosedural ini menindas pikiran-pikiran baru yang muncul sehubungan dengan kritik yang dialamatkan pada teori dan fakta-fakta dalam suatu normal science            

Tidak dapat dibantah, anomali kerap terjadi dan menghasilkan paradigma baru. Hal ini terjadi karena ilmuan dapat mengkaji ulang dasar-dasar paradigma lama, terutama pada prosedural dan teori-teori dalam normal science-nya. Kejadian ini disebut revolusi paradigma. [Satu contoh sederhana, ketika Einstein mengubah hukum gerak Newton W=FS ke E=MC2, dipastikan sebelumnya telah terjadi revolusi paradigma.]                  Pendeknya, paradigmalah yang sebenarnya menentukan eksperimen yang dilakukan para ilmuan, jenis-jenis pertanyaan yang diajukan, dan memilih masalah yang dinilai penting atau tidak penting. Contoh karya ilmiah yang menghasilkan paradigma baru pada zamannya adalah Physics (Aristoteles), Principia dan Optics (Isaac Newton), Geology (Lyell), The Origin of Species (Charles R. Darwin) dan Zur Elektrodynamiek Bewegter Korper (Albert Einstein).            

[Lewat biografi Einstein dapat  kita simak bahwa dukungan awal terhadap eksperimen dan makalahnya sebelum menyelesaikan disertasi doktoral berasal dari ilmuan fisika yang menentang paradigma Newton. Ernst Mach ~yang namanya telah disinggung pada awal bab ini~ dalam salah satu makalahnya berjudul “Sains Ilmu Mekanika: Tinjauan Kritis dan Historik Atas Perkembangannya”, secara tegas mendebat asumsi Newton tentang ruang dan waktu absolut. Mach menulis:[11]  Klaim Newton tentang ruang dan waktu absolut pada dasarnya justru berlawanan dengan maksud yang hendak diutarakan, demi sekadar meneliti fakta-fakta yang seolah-olah benar. Tak ada seorangpun yang memiliki wewenang untuk mempredikatkan hal-hal tentang ruang dan gerakan absolut; semua murni merupakan hasil-hasil pemikiran, yang adalah susunan-susunan mental, yang secara nyata tidak dapat diproduksi dalam pengalaman. Dan pada ulangtahun ke-70 Einstein mengakui Mach sebagai fisikawan sekaligus filsuf paling berpengaruh atas dirinya.]              

Sejak awal, The Structure of Scientific Revolutions telah mengundang banyak reaksi yang cenderung menilainya sebagai karya kontroversial. Bagaimanapun Kuhn berhasil meruntuhkan anggapan umum bahwa ilmuan adalah pencari kebenaran dan interogator alam serta realitas yang heroik, berpikiran terbuka dan bebas dari berbagai kepentingan. Seperti ditampilkan lewat parodi-parodinya pada buku itu, Kuhn berhasil mereduksi ilmu menjadi tidak lebih dari periode-periode panjang aktivitas yang kompromistik dan sekaligus membosankan, bahkan sesekali diselingi penyimpangan-penyimpangan irasional.                 

Melalui The Structure of Scientific Revolutions Kuhn telah mengukuhkan satu fase baru dalam ideologi ilmu. Bahkan Karl Popper, seseorang yang tidak diragukan integritasnya oleh para ilmuan di jagad ini ~yang pernah mendebat Kuhn di depan publik pada Juli 1965~ akhirnya mengakui pengaruh penting pemikiran Kuhn bagi kontinuitas pengembangan ilmu, dampak sosial serta tujuan-tujuan substansialnya bagi kemanusiaan.[12]             

Beberapa tahun kemudian, dalam salah satu karya yang paling orisinal yang diterbitkan sesudah Kuhn, Jerry Ravetz, seorang filsuf dan sejarawan ilmu yang selama beberapa waktu sebelumnya terkait dengan gerakan ilmu-ilmu radikal di Inggris, berpendapat bahwa ilmu yang telah terindustrialisasi (dan terjadi dimana-mana) itu sungguh sangat rentan terhadap ‘subyektifitas murni’ dan korupsi. Dalam bukunya yang sangat berani, Scientific Knowledge and Its Social Problems (1971; 1982; 1996) Ravetz menyatakan bahwa persoalan memang tidak sederhana. Mereka yang perduli terhadap ekses negatif pemanfaatan ilmu tidak mungkin sekadar menuding bahwa ilmu dapat menimbulkan masalah-masalah sosial, karena tudingan seperti itu didasarkan kepada epistemologi asal-asalan.             

Revetz berpendapat, konsep berpikir bahwa ilmu menguasai fakta-fakta telah saatnya untuk ditinggalkan. Begitu pula pernyataan bahwa ilmu ‘benar atau salah’, dan bahwa ilmu otomatis merupakan hasil-hasil riset. Kedua pernyatan ini sudah tidak dapat diterima sebab pengetahuan ilmiah yang sejati merupakan hasil dari proses sosial yang panjang, dan proses pembentukan ilmu terjadi lama setelah risetnya selesai dikerjakan. Ini berarti bahwa ilmu, jika ditafsirkan sebagai riset atau kegiatan akademis dalam pengertian luas, harus dilihat sebagai sebuah karya ‘ketrampilan berpikir dan ketrampilan bertindak’. Dengan begitu, apa yang disebut sebagai ‘kebenaran ilmu’ sangat tergantung pada (dan ditentukan oleh) kualitas hasil ilmiahnya.[13]             

Dalam mengartikan kualitas keilmuan, memasukkan aspek-aspek sosial dan etika sudah tentu menjadi agenda terpenting, selain melihat sisi ketidakpastian ilmu itu sendiri. Ravetz menunjukkan bahwa dari seluruh praktik pengembangan ilmu dewasa ini, dapat dibagi ke dalam empat kategori yang benar-benar problematis:  [1] Ilmu yang bobrok; [2] Ilmu perusahaan ~ mencari uang menjadi tujuan utamanya; [3] Ilmu yang serampangan dan; [4] Ilmu yang kotor.             

Ravetz juga menekankan bahwa kualitas ilmu sebagian besar tergantung pada tekad dan komitmen para ilmuan dalam berkarya, juga ditentukan dan diperkuat oleh kepekaan moral komunitas ilmiahnya. Dalam kata-kata Ravetz:[14]  Saat ini, ketika idealisme tentang ‘ilmu kecil’ telah kehilangan dasar sosial dan ideologisnya, bahkan telah menguap, maka idealisme serupa itu diperlukan demi Big Science yang mengalami industrialisasi. Tanpa idealisme semacam itu, ilmu menjadi sangat rentan terhadap korupsi, mengarah pada penguasaan universal oleh manusia-manusia yang berkualitas rendah atau bahkan yang lebih buruk.             

Ravetz menyediakan banyak ruang dalam Scientific Knowledge and Its Social Problems untuk membicarakan gagasan mengenai fakta ilmiah. Dia menunjukkan bagaimana hasil-hasil penelitian mengalami proses pengujian secara sosial sampai akhirnya menjadi ‘fakta-fakta’ dan pengetahuan. Ravetz menunjukkan, bagaimana mungkin dua pelajaran yang berbeda mengajarkan versi-versi yang sangat berlainan mengenai suatu fakta yang sama; bagaimana edisi-edisi yang berbeda pada buku teks yang sama bergerak diam-diam dari satu versi yang tidak tersanggah menuju versi yang lain; bagaimana mahasiswa mempelajari dan meyakini versi tertentu tentang suatu fakta yang telah dibikin vulgar sebagai kebenaran mutlak. Pengujian tentang bagaimana hasil-hasil riset ilmiah akhirnya menjadi fakta-fakta, dan menjadi bidang penyelidikan tersendiri, yang dimulai sejak akhir dekade 1970an.                     

Demikianlah Etika menjadi salah satu disiplin yang diperhatikan dalam core pengembangan ilmu di seluruh universitas; dari Eropa hingga Amerika. Orientasi menjadi klausul penting karena ilmu terkait dengan tindakan dan sikap intelektual. Seperti ditekankan Ravetz, pasti akan selalu muncul pertanyaan tentang sikap dan tindakan seorang ilmuan dalam menyelesaikan kasus-kasus yang sesuai keahliannya. Apakah solusi ilmu yang ditawarkan berkualitas baik dan memenuhi “harapan sosial”? Apakah penyelesaian ilmu tersebut memiliki implikasi moral dan akibat-akibat negatif bagi masyarakat? Jadi bagaimana seharusnya? Inilah pertanyaan dasar ilmu Etika!X  


[1]               Disampaikan sebagai pengantar diskusi pada seminar “Quo Vadis Dunia Pendidikan Indonesia?”, diselenggarakan oleh Universitas Pancasila, Jakarta, 24 Februari 2008.

[2] Kejadian-kejadian ini, sehubungan dengan puncak peperangan ilmu akhir abad XX dapat diikuti dalam Paul Gross, Norman Levitt and Martin Lewis, The Flight from Science and Reason (New York: New York Academy of Sciences, 1997).
[3]               Bdk. A. Goldman, Knowledge in a Social World (Oxford: Clarendon Press, 1999), 14-27.   
[4]               Realisme: pernyataan-pernyataan yang ada, tanpa kecuali, ditetapkan benar atau salah berdasarkan fakta-fakta yang tidak bersangkut paut dengan pikiran. Instrumentalisme: kita tidak dapat mengemukakan klaim tentang kebenaran atau realitas apapun yang dilahirkan oleh bukti empiris.  
[5]               Lih. Albert Einstein, ‘Hakikat Nilai Dari Ilmu: Pesan Kepada Mahasiswa California Institute of Technology’ dalam Jujun S. Suriasumantri (ed.), Ilmu Dalam Perspektif (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1994), 248-249. 
[6]               Tanda kurung dan garis bawah dari saya, SS. 
[7]               Garis tebal dari saya, SS
[8]               Psikologi Gestalt merupakan salah satu gerakan dalam bidang psikologi awal abad XX. Gestalt di sini tidak hanya berarti bentuk. Lebih dari itu Gestalt berarti keseluruhan yang ditata secara koheren, yang bagian-bagiannya dilihat sebagai sesuatu yang intrinsik pada keseluruhan itu. Nama-nama terkemuka dari salah satu aliran psikologi ini misalnya Max Wertheimer, Wolfgang Koehler, Kurt Koffka dan Frederick Perls. Sumbangan terbesar psikologi Gestalt yakni gagasannya tentang persepsi manusia. Tesisnya: persepsi merupakan proses fenomenologis, ketika obyek yang dipersepsikan selalu tampak sama dengan apa yang tampak bagi penglihatan ~ kesadaran, bukan dengan apa yang benar-benar ada secara aktual.                     
[9]               Untuk penjelasan yang lebih lengkap tentang Polanyi, bacalah bukunya, Segi Tak Terungkap Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Gramedia, 1996).
[10]             Edisi bahasa Indonesia terbit dengan judul yang sama (Bandung: Remadja Rosda Karya, 2000). Kendati demikian saya mendorong membaca naskah berbahasa Inggris, The Structure of Scientific Revolutions (Chicago: The University of Chicago Press, 1970).
[11]             Lih. Anna H. Silovcka, Einstein: A Biography (Oxford: Oxford University Press, 1984). 
[12]             Bacalah komentarnya dalam Criticism and the Growth of Knowledge (London: British Society, 1970), hal. 4-27.  
[13]             Jerry Ravetz, Scientific Knowledge and Its Social Problems (New Brunswick: Transaction Publishers, 1996), 25-97.    
[14]             Ibid., xi.
———————————————————————————————————-
 DOWNLOAD ?????
Jika Anda menghendaki Artikel di atas, silahkan download file di bawah ini:
Anda juga dapat melakukan interaktif langsung dengan mengisi komentar di bawah ini atau hubungi saya di alamat e-mail ini silitonga8 @ gmail.com
————————————————————————————

  

Telah tersedia silabus perkuliahan Mata Kuliah Etika Fakultas Psikologi, anda dapat men-download-nya di bawah ini:

Silabus

Jika ada sesuatu yang ingin anda tanyakan silahkan masukkan komentar atau langsung saja kirim silitonga8 @ gmail.com

5 responses to “Samson Silitonga

  1. pak…apakah bahan kuliah etika bapak sama dengan dosen MKU yang lainnya??
    karena saya lihat dari silabus psikologi agak berbeda…
    thx..

  2. pak, bahan kuliah etika psikologi cuman ini or masih ada lagi?? hehehe…abis kemaren-kemaren saya ga bisa dL pak…^_^

  3. To Mhs Psikologi,
    Sebaiknya anda juga pelajari materi-materi milik dosen lain karena mata kuliah ini mempunyai tim dosen yg cukup banyak. Silahkan download materi yang ada (sudah komplit) dari dosen-dosen yg lain… materi u/ uts gak yg susah2 koq

  4. Buat rekans mhs psikologi, telah tersedia pelengkap catatan Etika dari Mr. Samson dlm bentuk fotocopy-an. Harap dilacak di DSU or teman-teman yang sudah memiliki. Selamat Quiz!

  5. pak, apakah hanya ada 2 kasus untuk tugas etika UAS? ataukah ada kasus lain? thx.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s